Tungku itu masih menyala seperti tiga puluh tahun lalu.
Membersamaimu memasak untuk makan sehari-hari.
Sesekali tungku itu lebih sibuk ketika hajatan
kumpul bersama anak cucu, atau perayaan-perayaan.
Kesetiaanmu itu telah dimulai sejak dinikahi Abah.
Sejak keinginan-keinginanmu dicukupkan di situ.
Sebuah rutinitas hidup yang menjemukan.
Bangun subuh sekali untuk menyalakan api,
meletakkan dangdang, memasak apa saja yang ada.
Di situ kau menetap, dari suatu hari ke hari yang lain.
Dari kelahiran anak pertama ke kelahiran yang lain.
Dari kebersamaan kepada perpisahan-perpisahan.
Dari menimang kedatangan dan melepas kepergian.

Suatu ketika kelak, tungku itu akan kehilangan api.
Mencari tanganmu, mencari napasmu
yang mengalir agak kasar melalui lubang semprong.
Sebuah dapur mungkin akan terus dikunjungi
oleh setiap yang pernah melahap masakanmu
di dekat tungku atau sedikit menjauh di depan pintu.
Sebab kitab-kitab ketabahanmu tersembunyi
pada abu dingin dari kayu yang tak keburu seutuhnya
terbakar. Semua akan mencari jejak sabda
yang senantiasa kau ucapkan dengan bahasa diam.
Memeriksa getar bunyi pada sunyi rongga dangdang.

Kau yang telah khatam memaknai garis tangan,
mengerti bahwa bukan dari tungku galur nasib
tak berjarak di situ, tapi dari keralaanmu
memenjarakan diri dari godaan jalan ke dunia luar
seumur hidup. Karena kau seorang ibu
dan menjadi seorang ibu bagimu adalah bersedia
menjaga tungku, menjadikan tubuhmu
sebagi satu-satunya alamat pulang anak-anakmu.
Sekali waktu, kau memang terkejut dan tertegun
menatap nyala api yang semakin kecil
dan beras pada dangdang yang semakin sedikit.
Anak-anakmu telah lama meninggalkan rumah,
tapi kau tetap memilih bersetia di situ,
menanti mereka kembali kepadamu,
di sekitar tungku itu.

Oleh:

Muhammad Rois Rinaldi.
Bantean, Indonesia, 6.02.2019.